Pembagaian Sosiologi Dan Masalah Pokoknya

Posted on
Rate this post

Pembagaian Sosiologi


Secaragaris besar studi sosiologi dibagi menjadi tiga tahap, yaitu sifat dasar manusia dan perkembangannya, interaksi manusia, serta penyesuaian pada lingkungan.

Mensosialisasikan individu berarti menghubungkan seseorang dengan masyarakat. Hal tersebut inenunjukkan perlakuan atau persyaratan apa yang dituntut oleh masyarakat dan apa yang dapat dilakukan seseorang dengan adanya masyarakat. Hal ini akan mengarah pada analisis atas perubahan personalitas atau kepribadian, peran sebagai anggota kelompok dan penyebar kultur melalui keluarga dan lembaga lain, sebagai individu yang dapat menyesuaikan din atau yang tidak dapat rnenyesuaikan din pada pola perilaku kelompoknya, sebagai individu yang turut serta dalam penyusunan kembali masyarakat. Manusia digambarkan sebagai orang yang patuh, pembawa, pencipta, dan dalang dan kebudayaan yang mampu menyelewengkan kebudayaan.



Masalah – Masalah Pokok Yang Tidak Bergantung Satu Sama Lain

Berikut ini akan diperlihatkan bebapa masalah pokok yang tidak bergantung satu sama lainnya namun saling melengkapi.

Perilaku kolektif dihubungkan dengan bangkitnya masyarakat baru dan unit-unit kemasyarakatan baru. Sejauh hal itu disusun atau dibentuk dalam usaha-usaha kemasyarakatan dan kelompok-kelompok sosial untuk berbuat atau bertindak secara kolektif. Perilaku dan kebiasaan kolektif merupakan gerakan dan organisasi yang bersifat sementara. Gerakan dan organisasi yang sifatnya sementara itu, melakukan kegiatannya sebelum semuanya dilembagakan sebagaimana mestinya. Kebanyakan gerakan-gerakan sosial cenderung dapat diakhiri oleh institusi-institusi dalamjarigka yang panjang.

Lembaga-lembaga sosial oleh sementara orang dianggap sebagai subjek dan ilmu sosial. Sosiologi yang tersusun sedemikian rupa cenderung diidenti-fikasikan dengan antropologi social atau etnologi. Etnologi merupakan ilmu yang mempelajari kelembagaan dan sudut pandang evolusinya, sedangkan sosiologi mempelajari kelembagaan dan keterangan dan fungsinya yang kontemporer.

Kesukuan dan kultur memandang masyarakat dari sudut pandang etnologi. Sebagai suatu perkumpulan, dengan sifat fisiknya mempunyai kekhususan yang telah dibagi-bagi dalam berbagai kelompok yang berjauhan, yaitu kelompok besar dan kecil. Perangkat-perangkat kultur tertentu, seperti tradisi dan kebiasaan yang dimanfaatkan oleh kelompokk elompok individu untuk menyumbang pada kehidupan agar terus berlangsung. Begitu asosiasi dan peradaban manusia berkembang maka kekuatan-kekuatan yang memisahkan dan yang tidak dapat dielakkan membentuk dasar kenasionalan, kasta dan perbedaan kelas, cenderung merintangi perubahan yang diingini dalam organisasi dan susunan masyarakat.

Ekologi manusia dihubungkan dengan ragawi manusia yang membedakan dan lingkungan kultur atau kelembagaan. Tatanan ekologi menjadi dewasa, sebagai akibat adanya kompetisi dan kerja sama yang secara kebetulan, timbul secara tidak terelakkan di antara individu dan orang-orang yang hidup bersama. Ekologi melihat masyarakat dan sudut pandang kependudukan, perkembangan dan penurunannya, penyebaran dan penempatannya. Dan sudut pandang ini, masyarakat timbul pertama-tama sebagai suatu tatanan biologis daripada tatanan peradaban atau moral.

Masalah-masalah sosial, atau yang sering disebut sebagai sosiologi terapan, berusaha menentukan dan menguraikan secara praktis masalah-masalah sosial yang sedang terjadi. Agar terlaksana dengan efektifterlebih dulu perlu apresiasi mengenai faktor-faktor sosial dasar yang membawa masalah ini ke dalam eksistensinya. Bagian dan masalah-masalah social itu merupakan kulminasi kebiasaan dengan pertimbangan yang lebih teoretis.

Masalah-masalah pokok tersebut tidak saling bergantung satu sama lain, namun saling melengkapi. Sebagai contoh, masalah sosial dapat timbul dan penyebaran penduduk pada daerah miskin atau kurang subur (suatu faktor ekologi), di mana suatu suku bangsa yang kecil dijadikan sasaran akan perbedaan kasta (suatu faktor kesukuan dan kebudayaan). Mereka menghendaki adanya gerakan-gerakan masyarakat baru (penlaku kolektif) dan mengubah bentuk perwakilan masyarakat (lembaga-lembaga sosial). Semuanya itu berdampak pada sifat-sifat dan perilaku kemasyarakatan dan para individu sebagai anggota kelompoknya masing-masing (pemasyarakatan para individu).

Sumber Pustaka: Bumi Aksara