Bentuk Penelitian Sejarah (Lapangan dan Kepustakaan)

Posted on
4 (80%) 1 vote

Bentuk Penelitian Sejarah


Dalam rangka mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau melalui metode-metode ilmiah, maka para ahli sejarah melakukan serangkaian proses penelitian. Dilihat dan teknik pengumpulan datanya, maka ada dua jenis penelitian dalam sejarah, yaitu penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Baik penelitian lapangan maupun pne1itian kepustakaan dalam ilmu sejarah selalu bersifat deskriptif.

Penelitian Lapangan

Dalam melakukan penelitian lapangan seorang sejarawan dating ke tempat terjadinya peristiwa bersejarah atau ke tempat ditemukannya peninggalan-peninggalan bersejarah. Tempat ditemukannya benda-benda bersejarah tersebut disebut dengan situs. Bila peninggalan-peninggalan sejarah itu sudah disimpan di museum, maka seorang peneliti dapat melakukari penelitian ke museum. Apabila benda-benda bersejarah tersebut masih terpendam di dalam tanah, maka peneliti sejarah harus melakukan penggalian atau ekskavasi. Jika seorang peneliti perlu mendapatkan keterangan langsung dan pelaku atau saksi sejarah yang masih hidup sebagai sumber lisan, maka peneliti sejarah bisa melakukan metode Wawancara (interview).



Setelah artefak berhasil diangkat dan dalam tanah, peneliti sejarah kemudian melakukan pendataan kemudian melakukan identifikasi dan deskripsi terhadap penemuan-penemuannya tersebut. Jika dirasakan perlu maka benda-benda penemuan itu akan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan penelitian yang lebih cermat, misalnya tentang keaslian dan ketuaan umur benda tersebut. Hasil penelitian kemudian disusun secara rapi untuk dilaporkan ke masyarakat luas atau untuk diseminarkan.

Penelitian Kepustakaan

Penelitian kepustakaan disebut juga dengan penelitian dokumenter. Dalam melakukan penelitian kepustakaan seorang peneliti sejarah memfokuskan perhatiannya untuk memperoleh data- data tertulis (dokumen) yang disimpan di museum atau perpustakaan, seperti kronik (berita ) Cina, kitab-kitab kuno dan zaman Mataram Islam, arsip-arsip VOC, urat kabar dan zaman awal kemerdekaan, autobiografi, naskah pidato, rekaman video dan sebagainya. Untuk mendapatkan informasi yang benar dan sumber-sumber sejarah yang ada, maka seorang peneliti dapat melakukan studi komparatif, yaitu membandingkan sumber yang satu dengan sumber lain tentang sesuatu hal. 

Sumber Pustaka: Yudhistira